Selasa, 03 April 2012

Senyap

Kesenyapan memberi jeda bagi manusia untuk merefleksikan perjuangannya. Kesenyapan memberikan helaan nafas bagi pikiran untuk kembali pada kewarasannya. Kesenyapan memberi ruang untuk memaknai dan merasakan emosi.



Namun, kesenyapan ini juga memberi ruang untuk terputarnya memori lama terputar. Antara dua entitas yang berbeda yang pernah menjadi ‘kita’, yang kini hanya menjadi ‘saya dan dia’.



Kerapuhan adalah hal yang manusiawi. Setidaknya, kerapuhan mengingatkan bahwa kita semua masih bisa merasa, bukan serentetan pikiran berlandaskan logika mengenai untung-rugi. Biarlah saya mengenang, meratapi, dan jatuh rapuh untuk sementara.



Mengenang waktu ketika berjumpa dengannya membuat semua hal terasa baik-baik saja. Mengenang betapa semangatnya yang terdengar dari rentang jarak ratusan kilometer sanggup memberi kepercayaan diri berlipat ganda bahwa saya bisa menghadapi segala. Mengenang bahwa impian dan rencana itu pernah hampir nyata. Dan kini hanya tenggelam menjadi asa.



Berikan saya waktu untuk memaknai transformasi ini. Transformasi menuju segala ketidak pastian tanpa kehadiran dia. Dan biarlah segala pergumulan batin ini pada akhirnya akan menuju satu jawaban yang akan tersimpan di masa depan.




-catatan kecil di antara proses penulisan penuh logika bernama tugas akhir-

Minggu, 25 Maret 2012


Starting over might become a blessing in disguise ; it is us who choose the perspective.


Sabtu, 14 Januari 2012

After a Long Pause

To be consistent is a skill that one should learn throughout the lifetime. Once you have a break from a routine, it will be more difficult to start and continue it.

In my case, the absent of writing for almost a year didn't indicate that I don't have a story tell. In contrast, plenty of important and interesting things happened in my life during the last year. 2011 was a year when I was fully treated like an adult with all those consequences. It has quite dramatic ups and downs,. It tested my ability to survive regardless the unpredictable problems that I have to deal with. Despite its tough time, I also experienced opportunities to create and learn about various things. Moreover, I am blessed with the presence of some precious people.

So here I am, a 22 year-old college student who is currently embracing her (hopefully) last academic semester. I am trying to continue again my long-paused blog, in order to keep the record of my life, and hopefully it can bring new information to those who read it.

Sabtu, 23 April 2011

Segalau Apa Kita Semua?

Kini, urusan pikiran dan perasaan pun kini dapat menjadi konsumsi publik yang dipublikasikan lewat jejaring sosial. Bagi orang yang memiliki akun twitter, bisa dipastikan bahwa banyak sekali timeline orang-orang berisi kegalauan. Timeline galau ini datang dari berbagai macam tipe orang tanpa mengenal jenis kelamin, usia, maupun pekerjaan. Orang yang di kehidupan sehari-hari terlihat baik-baik saja nyatanya juga mempublikasikan keresahan hatinya. Begitu banyak orang yang baik secara eksplisit maupun implikit menyatakan kegalauan di jejaring sosial menimbulkan satu pertanyaan besar: segalau apa kita semua?

Jika merujuk pada KBBI, galau artinya pikiran yang sedang kacau. Sedangkan secara pengertian menurut ilmu psikologi, “Mental confusion or decreased alertness is the inability to think clearly and quickly. When confused, one has difficulty concentration, paying attention and may feel dizzy or depersonalized. Confusion interferes with ones ability to make decisions clearly and correctly.” - (http://psychology.wikia.com). Apapun pengertiannya, tapi menurut saya inti dari kegalauan adalah ketidakmampuan menghadapi masalah yang dihadapi yang menimbulkan kebingungan dan dilema berkepanjangan.

Menjadi mahasiswa memang rentan dengan kegalauan. Tuntutan umur yang semakin dewasa perlahan menuntut perubahan peran kita di masyarakt dan keluarga : kita bukan lagi si ‘anak kecil’ melainkan orang yang memiliki tuntutan dan tanggung jawab lebih di kelaurga. Kita bukan lagi si anak SMA yang bisa senang-senang tanpa perlu cemas memikirkan akan kerja apa nanti. Kita perlahan menyadari bahwa waktu menimba ilmu semakin tipis, dan ada fear of failure yang besar untuk masa depan. Hal ini juga yang bisa jadi menambah semakin mudahnya mahasiswa menjadi galau karena hal yang terlihat tidak terlalu besar. Di masa ini pula lah kita mulai belajar mengambil decision making besar yang efeknya bisa jadi cukup panjang dan harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambil. Selain itu, padatnya jadwal kuliah disertai dengan segala permasalahan akademis dan non akademis memberi kita sangat sedikit waktu untuk dapat memahami apa yang sebenarnya kita inginkan dan butuhkan. Disitulah, proses galau biasanya muncul.

Faktor penyebab galau bisa jadi sangat bermacam. Pada dasarnya, setiap perubahan yang terjadi dalam hidup pasti selalu disertai oleh proses galau. Perubahan naik tingkat, mendapat tawaran dan jabatan baru, kehilangan orang, semuanya pasti mengacu pada bimbang yang berkelanjutan. Selalu ada pengorbanan dan adaptasi yang harus dilakukan dan selalu akan muncul pertanyaan, “Apakah keputusan saya tepat? Apakah sebanding antara yang saya korbankan dan dapatkan?”

Ditambah lagi, sering sekali terjadi konflik batin antara berusaha tidak melebih-lebihkan masalah karena tuntutan kita yang semakin dewasa. “Bertambah umur seharusnya menjadi semakin kuat. Menjadi dewasa seharusnya menjadi tidak cengeng.” “Bukan saatnya untuk bermanja-manja dengan problem yang dihadapi, karena toh semua orang punya masalah.” Biasanya, pertentangan batin itu lah yang membuat kita cenderung memendam masalah dan hal ini yang memperlama proses galau tersebut.

Walaupun terkesan sepele, galau bisa berakibat negatif dan kronis. Pada jangka pendek, hal yang paling terasa adalah sulitnya berkonsentrasi, tidak fokus, dan kesulitan membuat sebuah keputusan. Hal itu disebabkan karena alertness yang sedang menurun. Pada jangka panjang, dilema dan keresahan yang dibiarkan dan ditumpuk lama-lama menyebabkan depresi serta kelainan psikologis lain. Akhirnya, produktifitas berkurang dan bahkan ada kecenderungan untuk berbuat agresif atau menarik diri dari lingkungan sosial. Maka, memahami apa yang terjadi ketika kita sedang galau adalah hal yang penting.

Tidak Ada Resep Anti Galau

Yang perlu diingat, galau itu hanya gejala. Menyembuhkan galau ya berarti mesti menyembuhkan akar permasalahannya. Sering kali, kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah sebenarnya terhambat karena efek samping yang ditimbulkan perasaan galau itu sendiri seperti sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan.

Tidak ada resep anti galau, yang ada hanya resep untuk tidak terlalu larut dalam kegalauan dengan cara mencari distraction. Pada jangka pendek, hal ini biasanya berhasil. Kita masih akan tetap bisa melakukan aktifitas dan kewajiban normal tanpa terhambat perasaan galau ini. Beberapa list distraction saya adalah : olahraga, makan enak, mencari kesibukan, self pampering, dan become addicted to something (apakah itu terhadap serial film tertentu atau permainan). Intinya, alihkan perhatian untuk hal-hal yang menyenangkan diri sendiri, tidak merusak, dan cukup produktif.

Namun, pada jangka panjang, galau itu ibarat luka yang ditutupi. Galau tetap akan terus mengingatkan pada permasalahan sebenarnya. Berusaha memaksakan diri tidak galau dan sok santai, ujung2nya hanya akan menimbulkan denial. Penyangkalan ini tidak akan membawa dampak baik melainkan akan menambah masalah baru di kemudian hari. Untuk itu, dibutuhkan perasaan jujur kepada diri sendiri untuk mengakui bahwa kita memang sedang punya masalah.

Galau itu butuh penyaluran, entah itu dengan menangis (membantu melepaskan hormone stress), mencari dukungan sosial, atau mendekatkan diri pada the higher power . Memiliki social support yang berisi orang-orang yang siap mendengarkan bisa jadi hal paling menolong di saat galau. Semakin kita besar, semakin penting punya orang-orang yang kenal kita luar dalam yang dapat sebagai pendengar yang baik. Bukan untuk memberi solusi, tetapi paling untuk mendengarkan segala perasaan yang kita pendam. Berikutnya, mengekspresikan diri lewat berbagai media yang sesuai juga bisa menjadi cara menyalurkan perasaan. Di era jejaring sosial seperti sekarang, kita juga sangat dimudahkan dalam mengekspresikan diri. Entah itu menyalurkan kegalauan dengan mempublikasikan tulisan, status, video, atau karya apa pun yang bisa menggambarkan how we feel. Pada tahap ini, intinya kita tidak lagi berusaha menyangkal segala masalah melainkan menghadapi kegalauan itu dan menerima bahwa memang sedang ada masalah yang perlu diselesaikan.

Mengakui bahwa diri sendiri sedang labil dan galau tidak lantas berarti kita menjadi kekanak-kanakan dan berlebihan. Justru semakin baik kita memahami apa yang terjadi, maka solusi nya pun akan semakin cepat dicapai. Hal yang perlu diperhatikan adalah bentuk penyalurannya. Semakin bertambahnya umur, cara penyaluran galaunya yang harus dikontrol agar tidak merugikan diri sendiri dan orang-orang sekitar.

Maka, dari pengalaman saya, hal-hal itulah yang bisa sedikit meringankan ketika kita sedang galau. Mencari distraction (pelarian), menghindari denial (penyangkalan), dan mencari channeling (penyaluran). Pada dasarnya, ketika rasa galau itu sudah bisa teratasi, kita jadi bisa berfikir lebih jernih untuk problem solving akar permasalahannya.

Oh ya, ada satu hal lagi. Tidak selamanya galau itu negatif. Ketika galau, kita jadi banyak berkontemplasi dan mengevaluasi diri. Hal ini biasanya menimbulkan rasa tidak nyaman, namun rasa tidak nyaman ini juga yang mendorong kita untuk mencari sesuatu yang lebih baik di luar sana. Tidak sedikit juga karya-karya besar di berbagai bidang muncul ketika penciptanya sedang mengalami kesedihan atau kebimbangan hidup. Jadi, seburuk-buruknya perasaan yang dirasakan, percaya saja bahwa pada akhirnya hal itu akan membawa pembelajaran baru untuk lebih mengenal diri sendiri.

Jumat, 11 Februari 2011

The Bitter Truth

"Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh." - http://alandakariza.com/ibu


just couldn't agree more...

Rabu, 09 Februari 2011

Penang : An Adventure of Taste and Beyond

Food, besides its basic needs as a nutritional support for the body, also functions as a way to find joy and happiness. Nowadays, the popularity of food not only serves to help human being stay survive but also has largely become a lifestyle. Take the examples of the rising fame of celebrity chef, culinary tour, food blog (visit my sister’s here), and the hype of cooking competition shows which have become part of our daily talks. Food has simply become the universal language to appreciate life.

So far, my most favorite city to indulge in the delight of cuisine is Penang. Located in the northwest coast of Malaysia, Penang is a former British settlement and nowadays become a vibrant city with multiracial population. Its diverse culture is perfectly represented by two components that make the city become noticeable: the rich architecture style and the irresistible cuisine.


Looking around Penang, people can easily observe many iconic places which reflect its multicultural history. Well-preserved colonial buildings such as Penang State Museum, State Assembly, Court Building, E&OHotel (one of the most beautiful hotel I’ve ever seen. Wish I could stay here someday!) are some of the examples. In addition, plenty of authentic Chinese architecture style homes and Islamic style buildings are everywhere. Due to the vast number of Buddhists, people can easily find many pagodas such as Kek Lok Si and Kuan Yin Temple. Therefore, it’s not surprising that since 2008 Penang has become one of UNESCO World Heritage City.



beach - temple - E&O Hotel

For more natural landscape, people can take fresh cool air in Penang Hills, either to enjoy the panoramic view by train or experience the adventurous hiking and jungle trekking. There is also Batu Ferringih area where lots of high end resorts located. The area is more suitable for laid-back tourist who wants to admire the crystal clear private beaches. For more lively activities, there is the famous Gurney Area which is popular for sightseeing and jogging track. Plenty of food vendors, commercial buildings, hotels, and apartments are also located along the Gurney Area.

Although it doesn’t counted as main shopping destination (compared with Singapore or Jakarta), Penang still has something to look on. Besides its several modern shopping malls, you can find authentic beautiful India textile and garments along Campbell Street.

Because of its strategic location, Penang could become a great base to explore South East Asia. There are many offers on cheap package tours to several nearby areas such as Phuket, Bangkok, Hatyai (Thailand), Aceh, Medan (Indonesia), Kuala Lumpur, Langkawi, Ipoh, Trengganu, Malaka (Malaysia), and Singapore. Usually, the tour service provides super comfort night buses with great facilities. The newly built Penang MRT also adds the convenience to its citizen and tourist to go around Penang.

Despite of the city’s physical characteristic, the highlight still lies in the variety of mouth watering food. The rich combination of Chinese, Malays, and Indian food are the best for people to experience the unique taste of Asian cuisine.

The hawker food is so amazing and located in all over area in Penang. People can find plenty of simple yet so tempting food stalls which provide various styles of foods to eat. Budget travelers don’t need to worry since the price is relatively cheap and it’s clean. 24 hours food stalls are everywhere which make it convenient for people to eat supper. There are several famous dishes in Penang :




hawker food paradise - seafood - popiah


Nasi Lemak : one of the most famous dish in Malaysia served with coconut and customized accompaniment. The price is very cheap, start from RM 1 per dish

Chicken Tandoori : an Indian dish specialty consists of roasted chicken with yogurt and spices

Kwetiaw : a mix of noodle and sautéed ingredients


nasi kandar - satay - laksa

Laksa : Laksa is one the most favorite dish in Penang. It tastes is spicy and sour, usually served with noodles and prawn.

Teh Tarik : Yes, teh tarik is everywhere. While we can easily find instant teh tarik in supermarket , experience the authentic teh tarik is still a pleasure.

cendol - kwetiaw - tandoori

Roti Canai : flat bread served with curry and herbs

Seafood : Seafood are always superb. Although I still think that seafood in Medan are the greatest of all, Penang also has wide section of seafood. Located in coastline, Penang has complete variety of fresh seafood with lot of style (steam, grill, or with spices).

Nasi Kandar : a mix of with choice of curries on the top of the desih . It’s like the Indian version of nasi padang. We can choose the vegetables and meat.


So, here’s my advice for people to go to Penang : don’t calorie counting. Just eat the good food and celebrate the beauty of life by indulge in the adventure of taste :)

Jumat, 14 Januari 2011

Upon the Loss


his last days, with his lifetime passion: airplane


Losing your loved one is like losing pieces of yourself. 19 December 2010, I lost my father. After 1,5 month being in the hospital battling with lung cancer, I have to say goodbye for the closest person in my life.



I just can’t describe how big it affects me. It’s like losing the closest person in your life who knew you the best, a person that you can discuss and share about everything – from having a culinary trip together, studying, future planning, world knowledge, life values, and other daily things. A person that literally shapes the way you are and the way you think, yet inherit big parts of his personality to you. A person that you rely on the most, a person with whom you can be very childish and spoiled and listen to all your trivial problem. That’s how I describe the closeness of my father. It’s like losing a backup which leads to feel very uncertain about several aspects in your life. And I do miss him a lot.


I just can’t describe how tough the life it was in these last several months –final examination, the deadline of semester group projects and your dying father- all happened at the same time. I just can’t remember how exhausted I was, constantly lack of sleep, constantly crying, and constantly went back and forth between Bandung and hospital in Jakarta. The long gloomy night in the hospital, the tense everytime I checked on my handphone to prepare whatever the bad news I’ll receive, the constant sorrow of watching his deteriorating condition. I really don’t have time for myself, and worse, I event don’t have time to be sad –the time was very limited that I have to do is fulfill my responsibilities – either as a student, as a child, and as a part of organizations. All the things before understand and having a space to my own mental turbulence.


When things got worse, the only things that help is having a good supporting system. I have these adorable friends who listened, who take care all the additional needs and back up in my academic life, friends who understand my situation. It’s where I feel that ‘well, I just can’t do it alone’. I have this extended family that constantly watched over him in the hospital. I have this brother and sister who finally came home from abroad, help me to survive and ease the burden. Their laugh and jokes during the darkest moment are priceless.



Yet the worst was over, but there’s a huge change in my life. Life goes on, and all I have to do is to adapt, to find ways to compensate the loss, and to back up all the things that he used to do, and finally to become stronger. I have new responsibilities, new targets, and new activities to fill in the upcoming semester. I know that those won’t be easy, since I’m no longer have anyone that I can call anytime – from asking an opinion in decision making or just complaining everytime I feel not capable in handling something.


But maybe the whole process was ways that life teaches me to understand certain values, certain aspects that one can’t understand until directly going through the process by themselves. Maybe bad things happened in your life is one of a method to cultivate some inner strength and to prepare for life’s future challenges. And yes, he will always be my hero.

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP